Ibu hamil yang tinggal di area dengan tingkat polusi udara buruk
beresiko memiliki bayi dengan berat rendah (BBLR). Bayi dengan berat
rendah lebih rentan terhadap penyakit.
Kebanyakan bayi yang
lahir dengan berat rendah juga beresiko tinggi menderita penyakit kronik
di usia dewasa, seperti diabetes dan penyakit jantung.
Riset ini lebih difokuskan pada
partikel halus di udara yang bisa masuk ke saluran pernapasan manusia.
Hasil
riset itu mengindikasikan, makin tinggi paparan polusi udara, makin
rendah berat badan bayi. "Yang cukup signifikan adalah polusi udara
tersebut hampir dialami orang di berbagai negara.
Meski demikian para ahli
berpendapat hasil penelitian ini tidak perlu terlalu ditakutkan para ibu
hamil karena dampaknya masih termasuk kecil.
sumber: BBC
Rabu, 27 Februari 2013
Selasa, 26 Februari 2013
Angka
kejadian bayi berat lahir rendah (BBLR) di Indonesia menurut data
UNICEF dan WHO tahun 2005 menunjukkan angka yang cukup tinggi yaitu
mencapai 30 persen. Padahal bayi dengan BBLR, memiliki risiko kematian 5
kali lebih tinggi dibanding bayi normal. Sehingga, angka yang cukup
tinggi ini mempersulit pencapaian tujuan pembangunan milenium (MDGs)
terutama pada poin menurunkan angka kematian anak.
Dokter spesialis anak dari Divisi Neonatologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Ciptomangunkusumo (FKUI/RSCM) Risma Kerina Kaban , untuk mengurangi angka BBLR maka masyarakat perlu memperoleh edukasi tentang faktor-faktor risikonya.
BBLR merupakan bayi dengan berat badan lahir kurang dari 2.500 gram tanpa memandang usia kehamilan. Pada umumnya, BBLR disebabkan dua faktor yaitu kelahiran prematur dan pertumbuhan janin terhambat (PJT). Kelahiran prematur merupakan kelahiran yang terjadi dengan usia gestasi kurang dari 37 minggu, sedangkan PJT merupakan gangguan pada pertumbuhan janin sehingga janin memiliki berat di bawah presentil 10.
Faktor risiko BBLR antara lain dibagi menjadi risiko demografik, risiko medis, risiko perilaku dan lingkungan, dan faktor risiko fasilitas kesehatan. Faktor risiko demografik meliputi usia ibu terlalu muda yaitu kurang dari 16 tahun atau terlalu tua yaitu lebih dari 35 tahun, status sosio-ekonomi yang merupakan salah satu penentu utama status gizi, serta tingkat pendidikan yang rendah.
"Faktor usia ibu terlalu muda biasanya banyak ditemukan di pedesaan yang budayanya menuntut anak untuk cepat-cepat dinikahkan, sebaliknya usia terlalu banyak ditemukan di perkotaan, wanita terlalu asik bekerja, lupa menikah," papar Risma.
Faktor risiko medis meliputi kehamilan multipel yang biasanya karena teknik bayi tabung sehingga menghasilkan bayi kembar lebih dari dua, kenaikan berat badan ibu tidak optimal, jarak kehamilan sekarang dengan kehamilan sebelumnya pendek, tekanan darah rendah atau hipotensi, hipertensi atau preeklamsia, infeksi yaitu adanya bakteri dalam urin, rubella, dan cytomegalovirus, pendarahan pada trimester pertama atau kedua, dan cairan ketuban yang jumlahnya sedikit atau terlalu banyak.
Faktor risiko perilaku dan lingkungan meliputi saat hamil terkena paparan asap rokok, status nutrisi buruk, konsumsi alkohol, dan konsumsi narkoba. Serta faktor risiko fasilitas kesehatan seperti perawatan kehamilan yang tidak rutin atau tidak ada sama sekali.
"Seringkali akibat kemiskinan, ibu hamil malas memeriksakan kehamilannya secara rutin bahkan tidak sama sekali, padahal hal itu sangat penting untuk mencegah bayi berat lahir kurang. "Dengan mengetahui faktor risiko, diharapkan masalah bayi berat lahir rendah dapat diatasi sehingga menurunkan angka kematian anak.
sumber:KompasHealth
Dokter spesialis anak dari Divisi Neonatologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Ciptomangunkusumo (FKUI/RSCM) Risma Kerina Kaban , untuk mengurangi angka BBLR maka masyarakat perlu memperoleh edukasi tentang faktor-faktor risikonya.
BBLR merupakan bayi dengan berat badan lahir kurang dari 2.500 gram tanpa memandang usia kehamilan. Pada umumnya, BBLR disebabkan dua faktor yaitu kelahiran prematur dan pertumbuhan janin terhambat (PJT). Kelahiran prematur merupakan kelahiran yang terjadi dengan usia gestasi kurang dari 37 minggu, sedangkan PJT merupakan gangguan pada pertumbuhan janin sehingga janin memiliki berat di bawah presentil 10.
Faktor risiko BBLR antara lain dibagi menjadi risiko demografik, risiko medis, risiko perilaku dan lingkungan, dan faktor risiko fasilitas kesehatan. Faktor risiko demografik meliputi usia ibu terlalu muda yaitu kurang dari 16 tahun atau terlalu tua yaitu lebih dari 35 tahun, status sosio-ekonomi yang merupakan salah satu penentu utama status gizi, serta tingkat pendidikan yang rendah.
"Faktor usia ibu terlalu muda biasanya banyak ditemukan di pedesaan yang budayanya menuntut anak untuk cepat-cepat dinikahkan, sebaliknya usia terlalu banyak ditemukan di perkotaan, wanita terlalu asik bekerja, lupa menikah," papar Risma.
Faktor risiko medis meliputi kehamilan multipel yang biasanya karena teknik bayi tabung sehingga menghasilkan bayi kembar lebih dari dua, kenaikan berat badan ibu tidak optimal, jarak kehamilan sekarang dengan kehamilan sebelumnya pendek, tekanan darah rendah atau hipotensi, hipertensi atau preeklamsia, infeksi yaitu adanya bakteri dalam urin, rubella, dan cytomegalovirus, pendarahan pada trimester pertama atau kedua, dan cairan ketuban yang jumlahnya sedikit atau terlalu banyak.
Faktor risiko perilaku dan lingkungan meliputi saat hamil terkena paparan asap rokok, status nutrisi buruk, konsumsi alkohol, dan konsumsi narkoba. Serta faktor risiko fasilitas kesehatan seperti perawatan kehamilan yang tidak rutin atau tidak ada sama sekali.
"Seringkali akibat kemiskinan, ibu hamil malas memeriksakan kehamilannya secara rutin bahkan tidak sama sekali, padahal hal itu sangat penting untuk mencegah bayi berat lahir kurang. "Dengan mengetahui faktor risiko, diharapkan masalah bayi berat lahir rendah dapat diatasi sehingga menurunkan angka kematian anak.
sumber:KompasHealth
Buah manggis merupakan buah yang dikeal luas karena cukup familiar
untuk dikonsumsi layaknya buah yang memiliki rasa manis dan nikmat.
salah satu kelebihan buah manggis dibandingkan dengan buah yang lainnya
adalah kandungan antioksidan tinggi yang bisa dimanfaatkan untuk
kesehatan dan pengobatan penyakit.
Banyak sekali manfaat dan khasiat buah manggis yang bisa kita dapatkan dengan mengkonsumsi buah manggis, diantaranya adalah sebagai berikut :
Banyak sekali manfaat dan khasiat buah manggis yang bisa kita dapatkan dengan mengkonsumsi buah manggis, diantaranya adalah sebagai berikut :
- Manggis mampu menyembuhkan sekaligus mencegah penyakit kanker. Ekstrak dari buah manggis ini ternyata mampu mencegah akan tumbuhnya beberapa sel kanker yang ada di dalam tubuh kita, seperti kanker paru – paru, kanker hati, kanker usus, dll.
- Mampu mengurangi rasa sakit.
- Mengurang tekanan darah tinggi.
- Melawan radikal bebas.
- Melancarkan pencernaai di dalam tubuh kita karena kaya akan kandungan serat alami.
- Mampu menurunkan kadar kolesterol.
- Mengatasi penyakit batu ginjal.
- Dapat meningkatkan energy kita.
- Mencegah tumbuhnya sel – sel pada penyakit leukemia.
- Dapat mencegah beberapa penyakit mematikan seperti diabetes, kanker, arthritis, jantung dan beberapa penyakit mematikan lainnya.
Minggu, 10 Februari 2013
Meski sudah mendapat gaji bulanan, bidan berhak atas uang jasa sesuai
ketentuan program Jaminan Persalinan. Pemerintah daerah tak berhak memotong
uang jasa itu atas alasan apa pun.
”Uang jasa bidan untuk menjaga keseimbangan kerja tenaga kesehatan di lapangan dan rumah sakit,”
Dalam sistem Jaminan Persalinan (Jampersal) baru, bidan berhak mendapat Rp 20.000 untuk setiap pemeriksaan sebelum melahirkan (4 kali) dan sesudah melahirkan (4 kali). Jasa membantu persalinan Rp 500.000 per persalinan.
Namun, beberapa pemerintah daerah (pemda) menerbitkan peraturan daerah yang memotong uang jasa dengan alasan bidan sudah mendapat gaji rutin atau pemda masih menanggung sejumlah alat bantu melahirkan.
Pemotongan ini membuat bidan menerima uang jasa sangat kecil. Akibatnya, banyak bidan masih meminta uang dari ibu pengguna Jampersal atau asal merujuk ke rumah sakit.
Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007 menyebutkan, AKI masih 228 per 100.000 kelahiran hidup. Padahal, target 2015 sebanyak 102 per 100.000 kelahiran hidup.
Ketua I Ikatan Bidan Indonesia mengatakan, untuk mengurangi kematian ibu melahirkan perlu kerja sama semua sektor. Persoalan kematian ibu bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan, melainkan juga sektor pembangunan lain.
Banyak bidan yang bekerja di daerah terpencil tidak didukung fasilitas yang memadai, seperti air bersih dan listrik. Akibatnya, mereka tak bisa membantu persalinan dengan baik.
”Sayang jika kehadiran bidan di desa tidak termanfaatkan hanya gara-gara tak ada fasilitas pendukung,” katanya.
Tingginya kematian ibu melahirkan juga dipicu terbatasnya akses menuju fasilitas kesehatan. Karena itu, pembangunan jalan dan penyediaan sarana angkutan bagi ibu hamil ke fasilitas kesehatan mutlak diperlukan.
sumber:kompashealth
”Uang jasa bidan untuk menjaga keseimbangan kerja tenaga kesehatan di lapangan dan rumah sakit,”
Dalam sistem Jaminan Persalinan (Jampersal) baru, bidan berhak mendapat Rp 20.000 untuk setiap pemeriksaan sebelum melahirkan (4 kali) dan sesudah melahirkan (4 kali). Jasa membantu persalinan Rp 500.000 per persalinan.
Namun, beberapa pemerintah daerah (pemda) menerbitkan peraturan daerah yang memotong uang jasa dengan alasan bidan sudah mendapat gaji rutin atau pemda masih menanggung sejumlah alat bantu melahirkan.
Pemotongan ini membuat bidan menerima uang jasa sangat kecil. Akibatnya, banyak bidan masih meminta uang dari ibu pengguna Jampersal atau asal merujuk ke rumah sakit.
Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007 menyebutkan, AKI masih 228 per 100.000 kelahiran hidup. Padahal, target 2015 sebanyak 102 per 100.000 kelahiran hidup.
Ketua I Ikatan Bidan Indonesia mengatakan, untuk mengurangi kematian ibu melahirkan perlu kerja sama semua sektor. Persoalan kematian ibu bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan, melainkan juga sektor pembangunan lain.
Banyak bidan yang bekerja di daerah terpencil tidak didukung fasilitas yang memadai, seperti air bersih dan listrik. Akibatnya, mereka tak bisa membantu persalinan dengan baik.
”Sayang jika kehadiran bidan di desa tidak termanfaatkan hanya gara-gara tak ada fasilitas pendukung,” katanya.
Tingginya kematian ibu melahirkan juga dipicu terbatasnya akses menuju fasilitas kesehatan. Karena itu, pembangunan jalan dan penyediaan sarana angkutan bagi ibu hamil ke fasilitas kesehatan mutlak diperlukan.
sumber:kompashealth
Jumat, 08 Februari 2013
Jumlah anak perempuan yang terancam praktik sunat
yang mengancam jiwa sudah menurun. Sesuai resolusi Majelis Umum PBB yang telah
disahkan dengan suara bulat pada Desember 2012, negara-negara anggota diimbau
untuk mengintensifkan upaya-upaya menghilangkan praktik sunat perempuan secara
menyeluruh.
Communication Specialist UNICEF
Indonesia, Jumat (8/2/2013), mengatakan, penurunan jumlah sunat perempuan tersebut
berdasarkan data baru dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang diluncurkan
pada 6 Februari dalam rangka Hari Internasional Tanpa Toleransi untuk Sunat
Perempuan.
Di 29 negara di Afrika dan Timur Tengah, di mana
praktik sunat perempuan berpusat, rata-rata 36 persen anak perempuan berusia
15-19 tahun telah disunat, dibandingkan dengan kira-kira 53 persen wanita
berusia 45-49 tahun.
Penurunan tajam terutama terjadi di beberapa
negara seperti Kenya, misalnya, wanita berusia 45-49 tahun memiliki kemungkinan
telah disunat sebanyak tiga kali lipat dibandingkan anak perempuan berusia
15-19 tahun. "Kemajuan ini menunjukkan bahwa mengakhiri sunat perempuan
adalah sesuatu yang mungkin.Data perkiraan terbaru dari UNICEF menunjukkan,
setidaknya 120 juta anak perempuan dan wanita telah mengalami sunat perempuan
di 29 negara. Berdasarkan tren saat ini, 30 juta anak perempuan di bawah 15
tahun masih memiliki risiko mengalami sunat perempuan.
Program Gabungan antara Dana Kependudukan PBB
(UNFPA) dan UNICEF tentang Sunat Perempuan kini tengah membuat kemajuan dalam
mencegah anak-anak perempuan dan generasi masa depan mengalami sunat perempuan.
Sejak 2008, ketika Program Gabungan antara Dana Kependudukan Perserikatan
Bangsa-Bangsa (UNFPA) dan UNICEF dibuat, hampir 10.000 komunitas di 15 negara
mewakili sekitar delapan juta jiwa, telah meninggalkan praktik sunat perempuan.
Tahun lalu, sejumlah 1.775 komunitas di seluruh
Afrika mendeklarasikan ke publik komitmen mereka untuk mengakhiri sunat
perempuan. Bahkan di negara-negara di mana praktik sunat perempuan tergolong
umum ditemukan, perilaku terhadap praktik tersebut mulai berubah.
Di Mesir, misalnya, di mana 90 persen anak
perempuan dan wanita telah mengalami sunat, persentase dari perempuan berusia
15-49 tahun yang telah menikah, dan berpendapat bahwa sunat perempuan harus
dihentikan, naik dua kali lipat dari 13 persen ke 28 persen antara tahun 1995
hingga 2008.
Sebuah kompilasi komprehensif dan analisis data
representatif nasional tentang sunat perempuan akan dipublikasikan oleh UNICEF
pada pertengahan tahun 2013. Data tersebut akan memberikan penilaian global
atas tingkatan dan tren, serta statistik di tingkat nasional dan regional.
sumber: kompashealth.com
Rabu, 06 Februari 2013
Menjadi wirausahawan salah satu resolusi Anda yang harus tercapai tahun ini? Agar cita-cita Anda menjadi kenyataan, ada beberapa tip yang bisa Anda terapkan saat merintis usaha:
1. Target konsumen
Sebelum memikirkan banyak hal lain untuk merintis usaha, pastikan Anda sudah menentukan pangsa pasar terlebih dulu. Menentukan pangsa pasar akan memudahkan Anda untuk menentukan kualitas dan jenis produk usaha. "Produk yang dijual untuk konsumen kelas atas akan berbeda dengan konsumen kelas bawah.
Dalam dunia kuliner misalnya, konsumen kelas atas dan bawah punya kecenderungan yang berbeda mengenai sajian makanan. Konsumen kelas atas akan lebih mementingkan rasa makanan saat memilih restoran. Sedangkan kalangan bawah akan lebih mementingkan banyak-tidaknya porsi makanan dibandingkan rasanya.
2. Merek usaha
Ciptakan merek usaha atau nama dagang yang mudah diingat dan menarik pelanggan. Jangan pilih nama yang terlalu sulit karena tidak akan mengesankan pelanggan. Nama yang sulit menyebabkan promosi dari mulut ke mulut juga sulit dijalankan.
3. Strategi promosi
Gunakan strategi promosi yang tepat di awal usaha untuk memperkenalkan dan menarik konsumen agar tertarik mencoba produk Anda. Misalnya dengan membuat brosur, spanduk, memberikan diskon (baik potongan harga maupun dalam bonus produk atau paket hemat).
4. Hitung semua biaya dengan teliti
Saat merinci modal usaha, hitunglah dengan teliti sampai biaya yang paling kecil. Hal ini berguna untuk mempermudah Anda menghitung semua kebutuhan agar tak kurang modal, satu kesalahan yang sering dilakukan para pengusaha pemula adalah tidak memperhitungkan biaya karyawan dengan tepat.
"Sekalipun di awal usaha Anda belum memiliki karyawan, namun Anda tetap harus memperhitungkan biaya tenaga kerja. Di sini Anda bertindak sebagai karyawan, sehingga sekecil apapun itu kinerja Anda harus diperhitungkan. Ini sebagai salah satu upaya penghargaan terhadap diri sendiri.
5. Menabung laba
Sekecil apapun laba usaha yang didapatkan dari hasil penjualan Anda, sebaiknya ditabung. Setelah laba terkumpul cukup banyak, jangan buru-buru membelanjakan uangnya untuk barang-barang yang Anda inginkan. Gunakan laba untuk memperbesar usaha. "Selain itu, sisakan juga 80 persen dari laba untuk tabungan dan dana persiapan untuk membeli berbagai kebutuhan tambahan, termasuk memanjakan diri Anda.
sumber:kompas
Langganan:
Postingan
(
Atom
)